Wednesday, June 29, 2016

Manusia dan Pandangan Hidup

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

 1. Pengertian Pandangan Hidup
      Menurut Koentjaraningrat dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup (World View) adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dipilih secara selekif oleh individu dan golongan di dalam masyarakat.

      Menurut Manuel Kaisiepo dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup mencerminkan citra diri seseorang karena pandangan hidup itu mencerminkan cita-cita atau aspirasinya.

Menurut Lenski dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup merupakan bagian dari ideologi.

Secara umum Pandangan Hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.

Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan tingkatan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negative.
Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang.


Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya.
Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang dirudung kesusahan. Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :
1. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.
2. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.
3. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.
            4. Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam       pandanga   hidupnya.
5. Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.

Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian, pandangan hidup erat sekali kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.
Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat. Manuel Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup itu bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak selamanya bersifat positif.

Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang biasanya digunakan sebagai pendukung suatu organisasi disebut ideology. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan, tuntutan seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir.
Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia yang mana mencerminkan diri seseorang. Pandangan hidup tersebut dapat digunakan dalam menjalani hidup. Pandangan hidup itu juga bisa diimplementasikan sebagai hasil-hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman, fakta, dan sikap meyakini sesuatu yang diringkas sebagai pegangan, pedoman, petunjuk atau arahan.

Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yang terdiri dari 3 macam, yaitu:

1. Pandangan hidup yang berasal dari agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
2. Pandangan hidup yang berupa Ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
3. Pandangan hidup hasil renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.




Pandangan hidup mempunyai 5 unsur-unsur, yaitu:

     1. Cita-cita apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan.
     2. Kebajikan segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai dan tenteram.
     3. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan.
     4. Keyakinan atau kepercayaan, merupakan hal terpenting dalam hidup manusi
     5.  Etika


        1. Cita-cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan, yang selalu ada dalam pikiran. Cita-cita merupakan pandangan masa depan dan pandangan hidup dimasa yang akan datang.
Faktor manusia yang ingin mencapai cita-citanya ditentukan oleh kualitas manusianya. Cara keras dalam mencapai cita-cita merupakan suatu perjuangan hidup yang apabila berhasil akan menimbulkan kepuasan.
      Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang
menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi
      yang merintangi.
       2. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan adalah suatu perbuatan yang mendatangkan kesenangan bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.
Manusia berbuat baik karena pada hakekatnya manusia itu baik. Makhluk bermoral atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Manusia adalah sebuah pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur tersebut terpisah bila manusia meninggal. Manusia mempunyai kepribadian oleh karena itu ia mempunyai pendapat sendirian ia mencintai dirinya, perasaannya dan cita-citanya. Untuk dapat melihat kebajikan kita harus melihat dari 3 segi, yaitu manusia sebagai mahluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat dan manusia sebagai makhluk Tuhan.

Suara hati adalah semacam bisikan didalam hati yang mendesak seseorang untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan. Jadi suara hati dapat merupakan hakim untuk diri sendiri. Sebab itu nilai suara hati amat besar dan penting dalam hidup manusia.
      Kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan Tuhan. Kebajikan berarti:berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah
      tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak meransang bagi yang melihatnya.







       3.  Usaha dan Perjuangan
Usaha dan perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Sebagian hidup manusia adalah usaha atau berusaha. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, maka ia harus bekerja keras. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak atau ilmu maupun dengan tenaga atau jasmani bahkan dengan keduanya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia iri, miskin dan melarat bahkan menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang manusia.


       4. Keyakinan atau Kepercayaan
Keyakinan atau kepercayaan berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat, yaitu:
1. Aliran Naturalisme, aliran ini berintikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak. Dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dari nature dan itulah ciptaan Tuhan. Bagi yang percaya adanyaTuhan, itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah ciptaan Tuhan karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama ada 2 macam, yaitu:
a. Ajaran agama yang dogmatis, disampaikan Tuhan melalui ajaran para nabi.
b. Ajaran agama dari pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia
sifatnya relatif.
2. Aliran Intelektualisme, besar aliran ini adalah logika atau akal. Akal berasal dari bahasa Arab yaitu qolbu yang berpusat dihati, sehingga timbullah istilah “hati nurani” artinya daya rasa.
3. Aliran gabungan, dasar aliran ini adalah perbuatan yang gaib dan akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, sedangkan akal adalah dasar kebudayaan yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul 2 kemungkinan pandangan hidup yaitu : pandangan hidup sosialisme dansosialisme
religius.


Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yaitu: 
1. Mengenal, merupakan suatu kodrat bagi manusia dan tahap hidup pertama dari setiap individu. Sebagai seorang muslim kita mengenal pandangan hidup yaitu alquran dan hadist serta ijamak Ulama yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
2. Mengerti, mengerti disini dimaksudkan pada mengerti tentang pandangan hidup.
3. Menghayati, menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam pandangan hidup yaitu dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup.
4. Meyakini, merupakan suatu hal yang cenderung memperoleh suatu kepastian  sehingga dapat mencapai tujuan hidupnya.
5. Mengabdi, merupakan suatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya sendiri lebih dari orang lain.
6.  Mengamankan, merupakan langkah terberat dan benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.

        5.  Etika
Istilah etika dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan dan adat. Jadi, hampir sama dengan pengertian moral yang berarti cara hidup atau adat. Etika dipergunakan dalam mengkaji suatu system nilai yang ada, misalnya etika itu sesuai atau tidak dengan norma yang berlaku. Sedangkan moral dipergunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, misalnya beramal merupakan perbuatan yang bermoral, sedangkan mencuri merupakan perbuatan yang tidak bermoral. Jadi, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sebaiknya manusia hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan apa yang buruk; segala ucapan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas-luasnya.
Penentuan segala sesuatu dalam masyarakat untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Karena, norma merupakan aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu, benar atau salah, baik atau buruk.


2. Macam-Macam Pandangan Hidup
Dalam buku berjudul Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis bahwa macam-macam pandangan hidup yang disusun oleh Drs.M.Ngalim Purwanto (2007:23) berdasarkan sumbernya,dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok,yaitu :

1. Pandangan hidup berupa agama (pandangan hidup muslim). Pandangan hidup ini memiliki kebenaran mutlak. Sebagai contoh, pandangan hidup muslim(orang islam) bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah(sikap, perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad saw)

2. Pandangan hidup berupa ideologi merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu Negara atau bangsa. Misalnya ideologi Pancasila dapat merupakan sumber pandangan hidup, sebagaimana halnya P4

3. Pandangan hidup berupa hasil perenungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika untuk hidup, misalnya aliran-aliran kepercayan.


Tuesday, June 21, 2016

Manusia dan Keadilan

MANUSIA DAN KEADILAN

      A. Pengertian Keadilan

Aristoteles : Keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit yang menyangkut dua orang atau benda.
Plato : keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaanya dikendalikan oleh aka.
Socrates : memproyeksikan keadilan pada pemerintahan sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Keadilan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kong Hu Cu : keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah dan masing-masing telahmelaksanakan kewaibannya, semuanya terbatas pada ilia-nilai tertentu yang sudah diyakini dan disepakati.
Pendapat umum : keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Kewajiban terletah pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

      B. Keadilan Sosial

            Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang peroman penghayatan dan pengamalan Pancasila dicantumkan ketentuan sebagai berikut :
“Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia”

Untuk mewujudkan keadilan sosial itu maka diperinci perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk:
1.      Perbuatan luhur yag mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2.      Sikap adil terhadap sesame, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
3.      Sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan
4.      Sikap suka bekerja keras
5.      Sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraa bersama




            Ada 8 jalur pemerataan menuju terciptanya keadilan sosial :
1     1.Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang dan                     perumahan
2     2. Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan
       3.  Pemerataan pembagian pendapatan
       4. Pemerataan kesempatan kerja
       5. Pemerataan kesempatan berusaha
6   6. Pemerataan kesempatan berpartisipaso dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan          kaum wanita
7   7.  Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air
8   8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan

      C. Berbagai Macam Keadilan

a.      Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato : keadilan dan hokum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yag membuat dan menjaga kesatuannya.
b.      Keadilan Distributif
Aristoteles : keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama.
c.       Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat.

      D. Kejujuran

            Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, sesuai dengan kenyataan yang ada. Bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum.
Pada hakikatnya jujur dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi. Kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita meliat diri kita sendiri berhadapan dengan hal baik buruk.
Kejuuran bersangkut erat dengan masalah nurani. Menurut M. Alamsyah dalam bukunya Budi Nurani, yang disebut nurani adalah sebuah wadah yang ada dalam perasaan manusia.
Hati nurani berkaikan erat juga dalam hubungan manusia dengan Tuhan.





        E. Kecurangan
            Kecurangan atau curang identic dengan ketidak jujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar.
            Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya.
            Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat di sekelilingnya hidup menderita.
Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, kebudayaan, peradaban dan teknik. Apabila keempat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma moral atau norma hukum.
Apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melangar norma tersebut dan jadilah kecrangan.

       F. Pemulihan Nama Baik

Nama baik merupakan  tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela.
Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Yang dimaksud tingkah laku dan perbuatan itu adalah antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan yang dihallkan agama dan lain sebagainya.

Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
a.       Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk moral
b.      Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
Pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya, bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak.
Ahlak berasal dari bahasa arab yang berarti penciptaan. Tingkah laku dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan penciptanya sebagai manusia.
Ada 3 macam godaan yaitu derajat, harta dan wanita. Bila orang tidak dapat menguasai hawa nafsunya, maka ia akan terjerumus ke jurang kenistaan karena untuk memiliki derajat, harta dan wanita itu dengan mempergunakan jalan yang tidak wajar.




   G.   Pembalasan

Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi itu daoat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.
Oleh karena tiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosam maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu.

Mempertahankan hak dan kewajibannya itu adalah pembalasan.

Thursday, June 2, 2016

Membangun Generasi Berkarakter dalam Menghadapi Kebebasan Komunikasi


The real document can be opened here : 


MAKALAH
Ilmu Budaya Dasar
“Membangun Generasi Berkarakter dalam Menghadapi Kebebasan Komunikasi”





Dibuat Oleh :
Rizka Aulia Fazri (56415122)
Kelas 1IA08




FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar
Dosen : Edi Fakhri





Kata Pengantar


            Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga saya dapat menyusun Tugas Ilmu Budaya Dasar ini dengan baik dan tepat waktu.
            Seperti  yang telah kita ketahui “Pendidikan Karakter” itu sangat penting bagi anak bangsa dari mulai dini. Semua akan dibahas pada makalah ini mengenai pendidikan karakter bangsa yang dihadapi denga  kebebasan komunikasi.
            Tugas ini saya buat untuk memberikan  penjelasan tentang bagaimana cara membangun generasi yang berkarakter (Pendidikan Karakter) sementara dihadapkan pada kebebasan komunikasi. Semoga makalah yang saya buat ini dapat membantu menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
            Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun  makalah ini. Oleh karena itu,  kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Ilmu Budaya Dasar, Bapak Edi Fakhri.
            Atas perhatian dan waktu Bapak, saya sampaikan banyak terima kasih.

                                                                                                               Depok, 2 Juni 2012


                                                                                                                          Penyusun




DAFTAR ISI

Kata Pengantar    ………………………………………………………………..  i
Daftar Isi   ………………………………………………………………………    ii
Bab I       PENDAHULUAN   ………………………………………………….    1
          1.1  Latar Belakang  ……………………………………………………...    1
          1.2  Rumusan Masalah …………………………………………………...    2
          1.3  Tujuan Masalah   …………………………………………………….    2
Bab II      PEMBAHASAN  …………………………………………………….    3
          2.1  Pengertian Pendidikan Karakter ……………………………………..    3
          2.2  Contoh Program Pendidikan karakter ………………….....................    3
          2.3  Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa............    5
          2.4   Pendidikan Karakter yang Berhasil…………………………….……..    6
Bab III    PENUTUP  ……………………………………………………………   8
          3.1  Kesimpulan  ………………………………………………………….   8
          3.2  Saran  …………………………………………………………………  8
Daftar Pustaka   ………………………………………………………………. … 9





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
            Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
            Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Apalagi saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada kebebasan komunkasi yang mana banyak sekali jalur-jalur ataupun fasilitas untuk mengakses berbagai macam informasi dalam bergbagai macam bentuk untuk berkomunikasi. Pendidikan Karakter dibutuhkan bagi pada generasi muda sebagai kemampuan diri untuk menyerap maupun memilah milih apa yang patut untuk diserap, diambil, dipelajari, dan hal-hal yang harus dihindari atau difilter.
            Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill. Untuk itu penulis menulis makalah ini, agar pembaca tahu betapa pentingnya pendidikan karakter bagi semua orang, khususnya bangsa Indonesia sendiri.


1


1.2  Rumusan Masalah
Apa pengertian dari pendidikan karakter itu?
Bagaimana contoh program pendidikan karakter?
Bagaimana peran pendidikan karakter untuk kemajuan bangsa?
Bagaimana gambaran dari pendidikan karakter yang sudah berhasil?

1.3  Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang disusun oleh penulis di atas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui apa itu pendidikan karakter.
Untuk mengetahui contoh program pendidikan karakter.
Untuk mengetahui peran pendidikan karakter untuk kemajuan bangsa.
Untuk mengetahui bagaiamana gambaran dari pendidikan karakter yang sudah berhasil.








2



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter.
            Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana,prasarana,dan,pembiayaan,dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

2.2 Contoh Program Pendidikan karakter.
A. Lingkungan Tempat Belajar (Sekolah/Universitas)
Training Guru/Dosen
            Terkait dengan program pendidikan karakter disekolah, bagaimana menjalankan dan melaksanakan pendidikan karakter disekolah, serta bagaimana cara menyusun program dan melaksanakannya, dari gagasan ke tindakan.
            Program ini membekali dan memberikan wawasan pada guru tentang psikologi anak, bagaimana cara mendidik anak dengan memahami  pikiran anak dan cara mudah dalam memahami dan mengatasi anak yang “bermasalah” dengan perilakunya.

3



Program Bimbingan Mental
            Program ini terbagi menjadi dua sesi program yaitu untuk anak-anak generasi muda dan untuk para orangtua. Disediakan sesi workshop therapy untuk anak-anak yang akan dibangun karakternya. Dan disediakan pula sesi seminar khusus orang tua untuk mengenali anaknya dan memperlakukan anak dengan lebih baik, demi kebaikan karakter si anak tersebut. Dalam seminar ini orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar yang sangat bagus untuk mempelajari berbagai teori psikologi anak dan keluarga. Memahami konsep menangani anak di rumah dan di sekolah, serta lebih mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak, pasangan dan orang lain. Sehingga anak akan mampu menerima perlakuan baik dari orangtuanya dan akan membawa pengaruh dan karakter yang baik pula untuk si anak.

B. Lingkungan Keluarga dan Pribadi
            Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia, yaitu hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkungan, dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.
            Membekali seseorang dengan fasilitas yang memadai dengan memberikan batasan dan arahan hal-hal mana saja yang baik untuk ditiru dan diikuti dan juga hal mana saja yang tidak patut untuk diserap.
4




            Pada dasarnya di dunia yang sudah memasuki era globalisasi ini, sangat banyak sekali hal-hal yang masuk dan keluar dari dalam negri maupun luar negri. Hal-hal tersebut tentunya bukan sepenuhnya hal-hal yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Sebagai generasi muda yang baik, haruslah pandai-pandai dalam memilah dan memilih hal yang perlu diterima dan ditolak dari pribadi sendiri. Kebebasan komunikasi yang sedang dialami pada bangsa ini tentunya banyak membawa dampak positif yang menguntungkan bagi Indonesia seperti mendapat banyak mendapatkan informasi dari berbagai Negara yang dapat membantu meningkatkan wawasan serta pengetahuan bagi yang menerimanya, namun disamping hal-hal yang menguntungkan tersebut, banyak pula hal-hal yang membawa pengaruh negative ataupun hal yang dapat merugikan baik untuk tiap-tiap pribadi maupun untuk sekelompok orang. Maka dari itu, pendidikan karakter sangatlah diperlukan bagi setiap masing-masing pribadi yang menghadapi kebebasan komunikasi di era globalisasi ini.

2.3   Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa.
            Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama. Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para Pendiri Republik ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka.
            Karena itu pendidikan karakter harus digali oleh masing-masing pribadi. Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal.
5


         Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial,  dan,budaya bangsa.
“Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa” adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. Pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia.

2.4  Pendidikan Karakter yang Berhasil.
            Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui :
Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
Memahami kekurangan dan kelebihan dirisendiri.
Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.
Menunjukkan sikap percaya diri.
Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis,dankreatif.
Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
6


Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Mendeskripsikan gejala alam dan social.
Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab.
Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara kesatuan Republik Indonesia.
Menghargai karyaseni dan budayanasional.
Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.
Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik.
Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dansantun.
Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanyaperbedaanpendapat.
Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.
Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa IndonesiadanbahasaInggrissederhana.
Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
Menunjukkan sikap percaya diri.

            Pada tataran sosial, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sosial, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua masyarakat.


7



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
            Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa kategori yaitu:
Pendidikan karakter bertujuan untuk membekali dan memberikan pribadi seseorang tentang apa saja yang harus dilakukan dan tidak ddalam menghadapi kerasnya kehidupan di era yang modern ini. Sehingga setiap pribadi berkemungkinan mampu dan mampu bertahan dengan baik dalam era globalisasi ini.
Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara lain.

 3.2 Saran
        Pentingnya pendidikan karakter bukanhanya menjadi tanggung jawab para petinggi pendidik dan pemerintah, tapi juga merupakan tanggung jawab setiap pribadi bangsa Indonesia. Kerja sama antara penyedia pembangun pendidikan karakter dengan pribadi masing-masing akan sangat membantu dalam majunya bangsa Indonesia.

Maka dari itu, pentingnya kesadaran diri sendiri sangat dibutuhkan dalam membangun generasi bangsa yang berkarakter.

8



DAFTAR PUSTAKA


















9